← Kembali ke LiterasiOpini

Ucapan tentang Diri Sendiri: Ketika Kata Membentuk Kebiasaan

Muhammad Fauzi

Universitas Negeri Makassar · 15 Agustus 2026 · 07.05 WIB

Muhammad Fauzi
Penulis

Pernahkah Anda berkata buruk tentang diri sendiri? Mengucapkan label-label negatif seperti “saya memang bodoh”, “saya pasti tidak bisa melakukan itu”, atau “saya biasanya sakit setiap awal bulan”? Coba jujur pada diri sendiri: seberapa sering kalimat semacam itu keluar, dan sudahkah Anda sadar bahwa ucapan yang terus diulang lambat laun akan menjadi kebiasaan, bahkan bagian dari identitas kita sendiri?

Fenomena semacam ini ternyata banyak dialami orang, sering kali tanpa mereka sadari. Salah satu kisah yang bisa menggambarkannya dialami oleh Nadia (bukan nama sebenarnya), seorang mahasiswi rantau yang baru sekitar tiga bulan tinggal di Surabaya.

Nadia sempat jatuh sakit tepat di awal bulan. Saat itu ia belum terlalu memikirkannya. Namun bulan berikutnya, hal yang sama terulang, dan di situlah ia mulai berkata pada dirinya sendiri, “kayaknya aku setiap awal bulan pasti bakal sakit seperti ini.” Bulan berikutnya, ternyata benar, ia sakit lagi, tepat di awal bulan.

Apa sebenarnya yang terjadi pada Nadia? Apakah karena kurang istirahat? Mungkin saja. Apakah karena sering telat makan? Bisa jadi. Tapi apakah itu satu-satunya penyebab? Ternyata tidak sesederhana itu.

Titik baliknya datang ketika salah satu dosennya, dalam sebuah perkuliahan, menjelaskan tentang pengaruh pikiran terhadap diri sendiri. Sang dosen mengatakan bahwa apa yang kita ucapkan tentang diri kita cenderung mencerminkan, bahkan pada akhirnya membentuk, siapa diri kita. Mendengar itu, Nadia mulai sadar, tanpa ia rencanakan, ia telah berulang kali “memprogram” dirinya sendiri untuk sakit setiap awal bulan. Ia kemudian mencoba mengubah kalimatnya menjadi sebaliknya, dalam hati ia mulai berkata, “setiap bulan saya harus lebih sehat dan bersemangat.” Sebulan setelahnya, sakit rutin di awal bulan itu tidak lagi terjadi padanya.

Dari sudut pandang psikologi, apa yang dialami Nadia punya penjelasan yang cukup masuk akal, dan tidak perlu dibungkus dengan hal mistis untuk dipercaya. Ucapan yang berulang-ulang kita katakan pada diri sendiri, dikenal sebagai self-talk, bukan sekadar bunyi tanpa makna. Ia berperan besar dalam membentuk ekspektasi, dan ekspektasi itu memengaruhi perilaku kita sehari-hari, misalnya lebih abai pada pola makan atau istirahat karena “toh nanti sakit juga”. Pola inilah yang dalam psikologi dikenal sebagai self-fulfilling prophecy: keyakinan yang kita pegang, tanpa kita sadari, ikut menuntun tindakan kita untuk mewujudkan keyakinan itu sendiri.

Ilmu neurosains modern turut menjelaskan mengapa self-talk yang diulang-ulang punya efek yang nyata. Otak kita memiliki kemampuan yang disebut neuroplastisitas, yaitu kemampuan untuk terus membentuk dan menguatkan jalur-jalur saraf berdasarkan pola pikir dan perilaku yang berulang. Semakin sering suatu pikiran diulang, semakin kuat pula jalur saraf yang mendukung pikiran tersebut, sehingga ia semakin mudah muncul kembali di kemudian hari. Di sisi lain, kajian psikoneuroimunologi menunjukkan bahwa pikiran dan emosi yang cenderung negatif dapat meningkatkan hormon stres seperti kortisol, yang pada gilirannya dapat melemahkan sistem imun tubuh. Sebaliknya, pola pikir yang lebih tenang dan positif berkaitan dengan respons stres yang lebih terkendali. Dengan kata lain, self-talk bukan sekadar “menarik” hal-hal secara ajaib, melainkan membentuk kebiasaan berpikir yang pada akhirnya berdampak nyata pada tubuh dan perilaku kita.

Kisah Nadia ini sejalan dengan pelajaran yang bisa ditemukan dalam ajaran agama. Dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah SWT berfirman:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي “Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengajarkan kita untuk senantiasa berbaik sangka (husnuzan) kepada Allah SWT, sebuah keharusan bagi setiap muslim. Lalu bagaimana dengan prasangka terhadap diri sendiri? Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Rahman ayat 60:

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ “Tidak ada balasan kebaikan selain kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman [55]: 60)

Ayat tersebut mengajarkan bahwa kebaikan akan berbalas kebaikan. Pertanyaannya, berlakukah prinsip ini pula ketika kebaikan itu kita tujukan pada diri sendiri, dalam bentuk pikiran dan kata-kata yang membangun, bukan yang menjatuhkan? Jika ucapan buruk kepada diri sendiri hanya akan dirasakan dampaknya oleh diri sendiri, bukankah ucapan baik pun demikian, kebaikannya juga akan kembali kepada diri yang mengucapkannya?

Jika Anda masih terbiasa berkata buruk kepada diri sendiri, mungkin ini saat yang tepat untuk mulai menguranginya. Sebab, semakin sering kita mengulang pola pikir itu, semakin kuat pula “jalur” dalam pikiran kita yang mendukungnya, dan semakin sulit pula untuk keluar darinya. Cobalah introspeksi sederhana, hitung kira-kira berapa banyak kata negatif yang Anda ucapkan tentang diri sendiri dalam sehari, lalu bandingkan dengan berapa banyak kata positif yang Anda ucapkan.

Mulai hari ini, mari kita coba lebih menghargai diri sendiri lewat cara berpikir yang lebih membangun. Bukan berarti menutup mata dari kekurangan, melainkan memilih cara bicara pada diri sendiri yang mendorong perbaikan, bukan yang mengukuhkan keterpurukan. Sebab, hari-hari kita akan terasa jauh lebih ringan bila dibumbui pikiran yang membangun, alih-alih terus-menerus dibayangi pikiran yang menjatuhkan.

“Kata-kata yang berulang membentuk kebiasaan berpikir, dan kebiasaan berpikir itulah yang perlahan membentuk diri kita.”

1 komentar

Tinggalkan komentar

AK
Al Kindi17 Agu 2026, 12.27

Mindset adalah segalanya! Mulai perbaiki ucapan, mulai perbaiki hidup