Siswa Bukan Masalah :Sudah Saatnya Kita Berhenti Memberi Label
Mengubah cara pandang siswa melalui perspektif Bimbingan dan Konseling
Alifa Chairurizha
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR · 14 Agustus 2026 · 03.31 WIB
Di sekolah, kita sering mendengar ungkapan seperti, "Dia memang anak yang bermasalah," "Anak itu sulit diatur," atau "Memang dari dulu seperti itu." Kalimat-kalimat ini mungkin terkesan biasa, tetapi sebuah label dapat membuat kita berhenti mencari tahu permasalahan yang sebenarnya dihadapi seorang siswa. Ketika perilaku seorang anak hanya dipandang sebagai masalah, kita berisiko melupakan bahwa ada sosok manusia di balik perilaku itu yang sedang tumbuh, belajar, dan berusaha memahami dirinya.
Sebagai mahasiswa dalam bidang Bimbingan dan Konseling, saya mulai menyadari bahwa peran seorang calon konselor tidak hanya sebatas membantu siswa ketika berada dalam kesulitan. Yang lebih penting, konselor perlu belajar untuk melihat siswa sebagai keseluruhan. Seorang siswa yang sering terlambat mungkin bukan sekadar individu yang tidak disiplin. Siswa yang tampak sulit fokus mungkin tidak serta merta malas. Bahkan siswa yang cenderung diam saat diajak berbicara belum tentu tidak peduli. Bisa jadi, ada hal tertentu yang belum mampu mereka ungkapkan.
Setiap tindakan memiliki konteks yang mendasarinya. Lingkungan keluarga, interaksi dengan teman sebaya, tuntutan di sekolah, perkembangan pribadi, pengalaman sosial, bahkan cara pandang seseorang terhadap dirinya sendiri dapat memengaruhi perilaku mereka. Oleh karena itu, memahami siswa tidak cukup hanya dengan memperhatikan yang tampak di luar.
Di sinilah peranan Bimbingan dan Konseling menjadi sangat penting. Konseling seharusnya bukanlah tempat untuk menghakimi, melainkan ruang bagi siswa untuk merasa nyaman dalam memahami diri mereka. Seorang konselor seharusnya tidak datang dengan asumsi bahwa dirinya paling paham dengan pengalaman siswa. Sebaliknya, konselor perlu hadir dengan sikap terbuka, bersedia mendengarkan, dan berusaha memahami dari perspektif siswa. Saya meyakini bahwa salah satu keterampilan utama yang harus dimiliki oleh calon konselor adalah kemampuan untuk mendengarkan tanpa tergoda untuk segera memberikan penilaian. Mendengar tidak hanya sekadar menunggu giliran untuk berbicara. Mendengarkan berarti memberikan perhatian yang tulus terhadap cerita, emosi, kebutuhan, serta pengalaman yang mungkin sebelumnya terabaikan.
Cobalah bayangkan seorang pelajar yang tiba-tiba mengalami penurunan dalam kinerjanya. Jika kita hanya fokus pada hasil akademisnya, kita mungkin akan beranggapan bahwa dia malas belajar. Namun, bagaimana jika dia sebenarnya sedang menghadapi perubahan signifikan dalam hidupnya? Bagaimana jika dia kehilangan semangat karena merasa tidak mampu memenuhi harapan orang lain? Atau bagaimana jika dia sesungguhnya memerlukan seseorang yang bersedia mendengar tanpa menghakimi terlebih dahulu?
Pertanyaan-pertanyaan ini mengingatkan kita bahwa sikap hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan diri seorang pelajar.
Sayangnya, di dunia pendidikan, label sering kali diberikan dengan cepat sebelum ada waktu untuk memahami situasi. Ketika seorang anak terus-menerus disebut “nakal”, dia bisa mulai memandang dirinya melalui lensa label tersebut. Saat seorang siswa selalu dianggap “tak mampu”, peluang untuk berkembang menjadi semakin tipis karena orang-orang di sekelilingnya sudah memiliki ekspektasi tertentu terhadap dirinya.
Padahal, siswa sedang melakukan perjalanan perkembangan. Mereka masih dalam proses mengenali diri, mengelola emosi, membangun hubungan sosial, membuat keputusan, dan menghadapi bermacam tuntutan hidup. Kesalahan dan perubahan perilaku adalah aspek yang kemungkinan muncul dalam perjalanan tersebut. Tugas pendidik adalah bukan menghilangkan semua kesalahan, tetapi membantu siswa belajar dari pengalaman dan tumbuh menjadi individu yang lebih baik. Padahal, para pelajar sedang berada dalam tahap pertumbuhan.
Mereka masih tengah berusaha memahami diri, mengelola perasaan, menjalin interaksi sosial, mengambil keputusan, dan menghadapi beragam tuntutan dalam hidup. Kesalahan dan perubahan dalam perilaku adalah hal yang mungkin muncul selama proses tersebut. Tugas pendidik bukanlah untuk menghilangkan semua kesalahan, melainkan untuk membantu siswa belajar dari pengalaman mereka dan tumbuh menjadi individu yang lebih baik.
Bagi saya, menjadi calon konselor berarti belajar untuk tidak terburu-buru membuat kesimpulan tentang seseorang hanya berdasarkan satu tindakan. Kita harus bertanya terlebih dahulu sebelum memberikan penilaian, memahami sebelum memberi label, dan mendengarkan sebelum memberikan saran.
Konselor juga harus menyadari bahwa setiap siswa memiliki kisah yang unik. Pendekatan yang berhasil untuk satu siswa mungkin tidak cocok untuk siswa lain. Oleh karena itu, layanan bimbingan dan konseling harus disesuaikan dengan kebutuhan, karakteristik, serta situasi masing-masing siswa. Prinsip ini menjadikan layanan bimbingan dan konseling bukan sekadar kegiatan administratif di sekolah, melainkan benar-benar menjadi bagian dari proses perkembangan siswa.
Akhirnya, pelajar tidak memerlukan orang dewasa yang selalu merasa dirinya benar. Mereka memerlukan figur dewasa yang bersedia hadir ketika mereka berusaha memahami kehidupan. Mereka ingin memiliki ruang untuk bertanya, membuat kesalahan, menceritakan kisah mereka, dan membangun kembali rasa percaya diri.
Mungkin sudah saatnya kita merevisi cara kita melihat hal ini. Alih-alih bertanya, “Apa masalah yang dihadapi siswa ini? ” kita seharusnya mulai mempertanyakan, “Apa yang dialami siswa ini dan bagaimana saya bisa membantunya? ”
Perubahan dalam pertanyaan ini mungkin tampak kecil. Namun, bagi seorang pelajar, perspektif kita dapat menciptakan dampak yang signifikan.
Sebab pada akhirnya, pelajar bukanlah masalah yang perlu diperbaiki. Mereka adalah individu yang sedang berkembang dan memerlukan kesempatan untuk dipahami.
Sebagai calon konselor, saya ingin terus belajar menjadi seseorang yang tidak hanya fokus pada perilaku, tetapi juga berusaha untuk memahami kisah di baliknya. Karena mungkin saja, di balik seorang pelajar yang tampak sulit dimengerti, terdapat seorang anak yang hanya menunggu seseorang untuk mengatakan, “Saya ingin mendengarkanmu. ”
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.