Perasaan Takut Boleh Dirasakan, tetapi Tidak Boleh Menguasai
Hijra Majid
Universitas Muhammadiyah Makassar · 22 Agustus 2026 · 01.54 WIB
Suara mesin perahu memecah keheningan. Dari suara itu, aku tahu, jarak kembali memisahkan.Bukan karena bapak ingin pergi. Bukan juga karena bapak ingin meninggalkan kami. Ada tuntutan hidup yang membuatnya harus pergi melaut, sampai berminggu-minggu.
Waktu masih kecil, aku belum benar-benar mengerti tentang pekerjaan bapak. Yang aku tahu, bapak pergi melaut karena bekerja. Sesederhana itu. Di pikiranku waktu itu, “Bapak kerja, nanti pasti pulang.” Kadang yang kupikirkan juga sederhana, “Kalau bapak pulang, saya bisa minta dibelikan barang yang saya mau.”
Aku tidak pernah benar-benar memikirkan bagaimana keadaan bapak di tengah laut. Seberapa besar ombaknya. Seberapa lama perjalanan yang harus ditempuh. Atau apa saja risiko yang mungkin terjadi. Bagiku, bapak adalah orang yang hebat. Orang yang pergi melaut dan akan kembali pulang. Tapi semakin aku dewasa, semakin aku sadar bahwa ternyata bukan hanya bapak yang hebat. Ada ibu yang juga luar biasa.
Ketika bapak pergi, ibu tetap ada di rumah. Menjaga kami, mengurus kebutuhan kami, mendidik kami, dan memastikan semuanya tetap berjalan seperti biasa. Padahal, mungkin ada banyak hal yang juga membuat ibu takut dan khawatir. Dulu aku mengira keberanian itu adalah ketika seseorang berani pergi menghadapi laut.
Sekarang aku tahu, menunggu juga membutuhkan keberanian. Menunggu seseorang yang kita sayangi pulang tanpa tahu pasti kapan dia akan kembali, bukanlah hal yang mudah. Ada rasa khawatir yang kadang muncul diam-diam.
Bapak sudah sampai belum? Bapak baik-baik saja tidak? Bapak kapan pulang?
Apalagi ketika kabar tidak selalu bisa datang setiap waktu. Tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu dan berharap semuanya baik-baik saja.
Sedari kecil, aku juga terbiasa dengan satu pemahaman “Tidak boleh menangis.” Kalau takut, jangan ditunjukkan. Kalau sedih, tahan. Kalau khawatir, diam saja. Mungkin karena sejak kecil aku diajarkan untuk kuat. Tapi semakin dewasa, aku mulai berpikir, sebenarnya apa arti kuat? Apakah kuat berarti tidak boleh menangis? Apakah kuat berarti tidak boleh takut?Ternyata tidak. Aku mulai memahami bahwa takut itu wajar. Menangis juga wajar. Khawatir terhadap orang yang kita sayangi juga wajar. Kita tidak harus selalu terlihat baik-baik saja.
Dalam psikologi dan konseling, kita belajar bahwa mengenali dan menerima emosi adalah bagian penting dari kehidupan seseorang. Perasaan tidak selalu harus dilawan. Ada kalanya kita perlu mengakui bahwa kita sedang takut, sedang sedih, atau sedang khawatir.
Mungkin anak-anak yang memiliki orang tua yang harus bekerja jauh dari rumah juga membutuhkan ruang untuk mengatakan itu.
Mereka tidak selalu membutuhkan nasihat. Kadang mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan dan berkata, “Tidak apa-apa kalau kamu takut” “Kalau kamu sedih, kamu boleh cerita.”
Karena ketika seorang anak terus diajarkan untuk menahan perasaannya, bisa jadi ia hanya belajar menyembunyikan emosi, bukan belajar mengelolanya.
Dan mungkin, selama ini kita terlalu sibuk mengajarkan anak untuk menjadi kuat, sampai lupa bahwa anak juga perlu tahu bahwa tidak apa-apa untuk merasa lemah sesekali.
Sekarang, setiap kali suara mesin perahu terdengar dan perlahan menjauh, aku tidak lagi hanya melihatnya sebagai tanda bahwa bapak pergi. Aku melihatnya sebagai bagian dari perjuangan keluarga kami. Bapak yang pergi mencari rezeki, ibu yang tetap bertahan di rumah, dan anak-anak yang belajar menunggu, belajar memahami, dan perlahan belajar menerima bahwa hidup tidak selalu memberikan kepastian.
Dulu aku hanya tahu bahwa bapak pergi dan pasti pulang. Sekarang aku tahu, di balik keberangkatan itu ada banyak doa yang ikut pergi bersamanya, dan di rumah, ada orang-orang yang selalu menunggu kepulangannya. Mungkin inilah yang akhirnya kupahami tentang rasa takut "Perasaan takut boleh dirasakan, tetapi tidak boleh menguasai".
Sebab menjadi kuat bukan berarti tidak pernah takut. Menjadi kuat adalah ketika kita tetap menjalani hari, tetap berharap, dan tetap melangkah, meskipun rasa takut masih ada di dalam diri.
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.