Menjaga Ruang Digital yang Sehat
Empati kecil, dampak besar
Andi Pratama
Universitas Negeri Makassar · 13 Agustus 2026 · 12.26 WIB
Setiap hari mahasiswa melewati ratusan percakapan di layar, mulai dari grup kelas sampai kolom komentar media sosial. Tidak semua percakapan itu ramah, dan sebagian meninggalkan luka yang tidak terlihat.
Anonimitas membuat sebagian orang lupa bahwa di ujung layar ada manusia lain yang juga punya perasaan. Kata-kata yang tidak akan pernah diucapkan secara langsung tiba-tiba terasa ringan diketik ketika wajah tak saling bertemu.
Menjaga ruang digital yang sehat sebenarnya tidak menuntut hal besar. Menahan diri sejenak sebelum mengirim komentar, membaca ulang kalimat kita, dan bertanya apakah kita akan mengatakannya di depan orangnya, sudah cukup untuk mengurangi banyak konflik.
Kampus punya peran penting dalam menumbuhkan kebiasaan ini. Ketika mahasiswa terbiasa berempati di dunia maya, ruang digital berubah dari arena saling serang menjadi tempat bertukar gagasan yang menenangkan.
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.