← Kembali ke LiterasiOpini

Menemukan "Why": Alasan di Balik Setiap Konsistensi

Refleksi dari sebuah pelatihan di Yogyakarta hingga obrolan dengan seorang pengrajin patung tanah liat

Muhammad Fauzi, S.Sos

Universitas Negeri Makassar · 18 Agustus 2026 · 00.18 WIB

Muhammad Fauzi, S.Sos
Penulis

Dalam sebuah pelatihan di Yogyakarta, seorang peserta mendengar pertanyaan-pertanyaan yang begitu akrab di telinganya. Bagaimana mengatasi rasa gugup ketika berbicara di depan umum? Bagaimana menjaga konsistensi dalam menjalankan sesuatu? Bagaimana cara mengelola emosi? Pertanyaan-pertanyaan itu bukan hal baru baginya, bahkan ia sering mendengarnya di berbagai forum diskusi dan seminar sebelumnya.

Ternyata, tidak peduli di mana pun forum itu diselenggarakan, persoalan yang dialami banyak orang hampir selalu sama. Jawaban yang diberikan pun tidak jauh berbeda: perbanyak latihan sebelum berbicara, buat rencana aksi (action plan), bangun kebiasaan yang baik. Namun ia menyadari satu hal, bahwa jawaban-jawaban itu sudah berkali-kali didengar, bahkan dipraktikkan, tetapi persoalan yang sama tetap saja belum sepenuhnya teratasi.

Banyak orang menjalani rutinitas yang sama setiap hari: berangkat ke kampus, sekolah, atau kantor untuk belajar, mendengarkan materi, mengerjakan tugas, menyelesaikan pekerjaan. Namun jarang ada yang berhenti sejenak untuk bertanya pada diri sendiri: mengapa semua itu dilakukan? Apa yang sebenarnya melandasi setiap langkah yang diambil?

Pertanyaan itu kembali terngiang ketika ia teringat sebuah obrolan singkat dengan seorang pengrajin patung. Saat itu, ia sedang mengikuti kegiatan Service in Action bersama timnya, membantu masyarakat setempat membersihkan lokasi perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia. Di sela kegiatan, seorang pengrajin mengajaknya melihat hasil karya mereka. Setelah mengamati beberapa patung yang dipajang, ia melontarkan pertanyaan sederhana, "Mengapa Bapak membuat patung ini dari tanah liat, sementara di tempat lain menggunakan logam?"

Dengan tenang, pengrajin itu menjawab bahwa ia mempertimbangkan situasi di sekitarnya — tanah liat lebih mudah didapat dan harganya jauh lebih terjangkau dibanding logam. Jawaban sederhana itu meninggalkan kesan mendalam. Pengrajin tersebut tahu persis apa yang mendasari pilihannya, dan karena itu ia tidak ragu dengan setiap keputusan yang diambil dalam pekerjaannya.

Simon Sinek pernah menulis, "Why we do what we do." Kalimat itu menggambarkan persoalan yang sama: banyak orang berangkat pagi dan pulang malam tanpa benar-benar memahami untuk apa semua itu dilakukan. Tidak sedikit pula mahasiswa yang menempuh perkuliahan, menyusun skripsi, hingga lulus, tanpa pernah menemukan tujuan besar di balik prosesnya. Rasa gugup ketika berbicara di depan umum, misalnya, bisa jadi bukan sekadar soal keberanian, melainkan tanda belum matangnya persiapan dan penguasaan materi. Ketika alasan itu ditemukan, langkah berikutnya menjadi lebih jelas: pelajari materi hingga benar-benar dikuasai, baru kemudian berlatih berbicara. Pengrajin dalam kisah di atas tidak pernah ragu dengan pilihannya, karena ia memahami betul tujuannya.

When your "why" is clear, your "how" will come. Tokoh-tokoh seperti Steve Jobs, Mark Zuckerberg, Bill Gates, hingga B.J. Habibie tidak sekadar membangun bisnis atau mengejar keuntungan. Di balik kerja keras mereka, selalu ada alasan yang jelas mengapa semua itu layak diperjuangkan.

Namun, menemukan alasan atau "why" saja belum cukup. Dibutuhkan pola pikir yang kuat untuk terus melangkah meski menghadapi tantangan. Nasihat orang lain, buku-buku motivasi, pelatihan, dan seminar hanyalah pendukung di sepanjang perjalanan dan pada akhirnya, setiap orang sendirilah yang harus bergerak untuk mewujudkan tujuannya. Seperti sebuah ungkapan yang relevan untuk direnungkan, "Your 'why' is what keeps you going when you face rejection."

1 komentar

Tinggalkan komentar

AK
Al Kindi24 Agu 2026, 04.08

Wahh, ternyata kita hanya terlalu banyak bertanya tanpa tau alasan sebenarnya