← Kembali ke LiterasiOpini

Ketika AI Belajar "Berempati": Krisis Autentisitas dalam Bimbingan dan Konseling

Manusia yang mencari jati diri

27 Agustus 2026 · 12.59 WIB

MY
Penulis

Bayangkan seorang siswa yang cemas curhat ke sebuah chatbot larut malam, dan mendapat balasan yang terdengar sangat memahami perasaannya. Ia merasa didengar. Tapi benarkah demikian atau ia hanya berhadapan dengan pola statistik yang pandai meniru nada empati?

Pertanyaan ini bukan sekadar filsafat abstrak. Ia menyentuh langsung jantung profesi Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah, tepat ketika layanan berbasis AI dan platform e-counseling mulai merambah ruang-ruang yang dulu hanya diisi oleh relasi manusia dengan manusia.

Generasi yang cemas, tapi terus menggenggam layar

Kecemasan sosial pada remaja dan dewasa muda meningkat tajam, dan media sosial punya andil besar di dalamnya. Paparan terus-menerus pada citra diri orang lain yang serba dipoles memicu perbandingan sosial yang melelahkan. Dorongan kompulsif mengecek notifikasi dan menghitung like pun tak lagi memberi kepuasan, tapi sulit dihentikan. Hasilnya, sebuah lingkaran setan: cemas di dunia nyata, lari ke dunia maya, lalu makin cemas.

Di titik inilah guru BK semestinya hadir bukan sekadar sebagai penanganan administratif masalah siswa, tapi sebagai pendamping tumbuh kembang yang utuh. Tantangannya, teknologi yang sama yang memicu persoalan ini kini juga ditawarkan sebagai solusinya.

Empati yang disimulasikan, bukan dirasakan

Carl Rogers, bapak konseling humanistik, menegaskan bahwa perubahan terapeutik hanya terjadi ketika konselor benar-benar hadir secara empatik, jujur (kongruen), dan menerima klien tanpa syarat. Robert Carkhuff kemudian menerjemahkan gagasan ini menjadi keterampilan yang bisa dilatih bagaimana seorang konselor merespons secara interchangeable dengan apa yang dirasakan kliennya.

Persoalannya, AI bisa meniru pola respons ini dengan sangat meyakinkan. Ia mengenali kata kunci emosi, menyusun kalimat yang terdengar validatif, bahkan menyesuaikan nada. Tapi sejumlah kajian menegaskan: yang terjadi hanyalah empati kognitif berbasis prediksi data, bukan kepedulian yang sungguh dirasakan. Filsuf Martin Buber punya istilah tepat untuk ini relasi I-Thou (Aku-Engkau) versus I-It (Aku-Itu). Manusia bertemu manusia lain sebagai pribadi utuh yang hadir dan saling mengakui. Mesin, secanggih apa pun, tetap berhenti di relasi Aku-Itu: ia bisa dianalisis, dikonsultasi, dimanfaatkan tapi tidak benar-benar "menemui".

Riset terbaru bahkan menemukan istilah untuk kesalahpahaman ini: therapeutic misconception ketika pengguna melebih-lebihkan kemampuan chatbot memberi dukungan psikologis sungguhan, sambil meremehkan keterbatasannya. Ada pula temuan soal "empati deseptif" pada sistem AI, yang berisiko mengabaikan pengalaman nyata pengguna dan gagal menangani situasi krisis dengan memadai.

BK bukan sekadar layanan, tapi relasi

Ini bukan alasan untuk menolak teknologi. Aplikasi konseling berbasis AI dan sistem analitik data tetap bisa memperluas jangkauan layanan BK, terutama di tengah keterbatasan rasio konselor-siswa di Indonesia. Tapi teknologi ini harus tetap diposisikan sebagai alat bantu bukan pengganti kehadiran manusiawi yang menjadi jiwa dari konseling itu sendiri.

Guru BK di era Society 5.0 dituntut cakap memakai teknologi, sekaligus memperkuat kompetensi humanistiknya. Sebab pada akhirnya, penyembuhan psikologis bukan soal seberapa tepat sebuah respons dihasilkan, melainkan soal satu pribadi yang benar-benar menemui pribadi lain sebagai Engkau, bukan sebagai Itu. Dan itu, sampai kapan pun, adalah sesuatu yang tak bisa dialgoritmakan.

0 komentar

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.