← Kembali ke LiterasiEsai

Akankah Konselor Tergantikan?...Menjaga Humanisme Pendidikan di Era Artificial Intelligence

Muh. Syawal Hikmah, S.Pd

Universitas Negeri Malang · 18 Agustus 2026 · 00.18 WIB

Muh. Syawal Hikmah, S.Pd
Penulis

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Teknologi yang sebelumnya hanya berfungsi sebagai alat bantu komputasi kini berkembang menjadi sistem yang mampu menghasilkan bahasa, memberikan rekomendasi, serta berinteraksi dengan manusia melalui percakapan yang semakin menyerupai komunikasi alami. Kehadiran AI generatif seperti ChatGPT telah memunculkan perubahan besar dalam berbagai sektor, termasuk pendidikan, kesehatan, dan layanan profesional. Dwivedi et al. (2023) menjelaskan bahwa AI generatif menghadirkan transformasi baru karena teknologi tidak hanya membantu manusia mengakses informasi, tetapi juga mulai berperan dalam proses berpikir, kreativitas, dan pengambilan keputusan.

Perubahan tersebut membawa pertanyaan penting bagi dunia pendidikan, khususnya profesi bimbingan dan konseling: apakah konselor akan tetap memiliki peran ketika teknologi mampu memberikan respons yang cepat, personal, bahkan menyerupai dukungan emosional manusia? Pertanyaan ini bukan sekadar persoalan teknologi, tetapi juga menyentuh identitas profesi konselor sebagai profesi yang selama ini dibangun atas dasar hubungan manusia.

Dalam konteks pendidikan, AI menawarkan berbagai peluang yang tidak dapat diabaikan. Holmes et al. (2022) menjelaskan bahwa AI memiliki potensi besar dalam mendukung pendidikan melalui personalisasi pembelajaran, analisis kebutuhan peserta didik, serta penyediaan akses terhadap sumber belajar. Namun, mereka menegaskan bahwa penerapan AI dalam pendidikan harus berlandaskan prinsip human-centered AI, yaitu pendekatan yang memastikan teknologi tetap berada dalam kendali manusia dan digunakan untuk memperkuat kualitas pengalaman belajar, bukan menggantikan peran manusia.

Fenomena serupa juga mulai berkembang dalam layanan bimbingan dan konseling. Berbagai platform berbasis AI mulai digunakan untuk menyediakan informasi, dukungan psikologis awal, serta layanan percakapan berbasis chatbot. Boucher et al. (2021) menjelaskan bahwa chatbot berbasis AI memiliki potensi besar dalam layanan kesehatan mental digital karena mampu menyediakan dukungan awal secara fleksibel, mudah diakses, dan tersedia sepanjang waktu. Namun, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa teknologi ini masih memiliki keterbatasan karena belum mampu memahami kompleksitas pengalaman manusia secara mendalam.

Dalam kajian kesehatan mental digital, AI memang menunjukkan perkembangan yang signifikan. Cho et al. (2023) melalui kajian mengenai mental health conversational agents menjelaskan bahwa agen percakapan berbasis AI memiliki potensi dalam meningkatkan akses terhadap dukungan psikologis, terutama bagi individu yang menghadapi hambatan dalam memperoleh layanan profesional. Akan tetapi, mereka juga menekankan bahwa penggunaan AI dalam kesehatan mental membutuhkan perhatian terhadap aspek keamanan, akurasi, etika, dan batasan kemampuan teknologi.

Hal tersebut menunjukkan bahwa kemampuan AI dalam memberikan respons tidak dapat disamakan dengan kemampuan konselor dalam memahami manusia. Konseling bukan hanya proses memberikan informasi atau menawarkan solusi, tetapi merupakan proses perubahan yang terjadi melalui hubungan interpersonal yang bermakna. Rogers (1957) menjelaskan bahwa perubahan positif dalam konseling sangat dipengaruhi oleh keberadaan hubungan yang dibangun melalui empati, penerimaan positif tanpa syarat (unconditional positive regard), dan keaslian (congruence) konselor.

Pandangan tersebut diperkuat oleh Norcross dan Lambert (2018) yang menegaskan bahwa hubungan terapeutik merupakan salah satu faktor utama yang menentukan keberhasilan proses psikoterapi. Dengan demikian, kekuatan utama konseling bukan hanya terletak pada teknik atau strategi intervensi, tetapi juga pada kualitas hubungan manusia yang memungkinkan konseli merasa dipahami, diterima, dan memiliki ruang aman untuk berkembang.

Pada konteks konseling kelompok, Yalom dan Leszcz (2020) menjelaskan bahwa proses perubahan terjadi melalui pengalaman interpersonal seperti keterhubungan, penerimaan sosial, dukungan emosional, dan pembelajaran melalui interaksi dengan orang lain. Dimensi tersebut menunjukkan bahwa konseling memiliki aspek kemanusiaan yang jauh lebih kompleks dibandingkan sekadar pertukaran informasi antara pengguna dan sistem digital.

Memang, perkembangan AI menunjukkan bahwa mesin mampu menghasilkan respons yang semakin menyerupai empati manusia. Ayers et al. (2023) menemukan bahwa dalam konteks komunikasi kesehatan berbasis teks, respons chatbot AI bahkan dinilai memiliki kualitas dan empati yang tinggi oleh evaluator dibandingkan beberapa respons profesional manusia. Namun, temuan tersebut perlu dipahami secara hati-hati. Penelitian tersebut tidak menunjukkan bahwa AI memiliki empati seperti manusia, melainkan menunjukkan bahwa AI mampu menghasilkan bahasa yang tampak empatik dalam konteks tertentu.

Hal serupa juga ditemukan oleh Yonatan-Leus dan Brukner (2025) yang menunjukkan bahwa chatbot AI mampu menghasilkan respons yang dipersepsikan empatik dalam percakapan kesehatan mental. Meskipun demikian, kemampuan tersebut tetap berbeda dengan empati manusia karena AI tidak memiliki pengalaman hidup, kesadaran emosional, nilai pribadi, serta kemampuan memahami konteks budaya secara utuh.

Seorang siswa yang datang kepada konselor tidak hanya membawa sebuah masalah yang membutuhkan jawaban, tetapi membawa pengalaman hidup, hubungan keluarga, tekanan sosial, nilai pribadi, dan harapan masa depan. Konselor tidak hanya mendengarkan kata-kata, tetapi memahami makna di balik cerita yang disampaikan. Inilah aspek yang menjadi pembeda utama antara konselor manusia dan teknologi AI.

Oleh karena itu, masa depan profesi konselor bukanlah tentang menggantikan manusia dengan mesin, tetapi tentang bagaimana konselor mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. AI dapat menjadi alat yang membantu konselor dalam melakukan analisis kebutuhan siswa, mengembangkan program layanan, menyediakan informasi karier, serta meningkatkan efisiensi pekerjaan administratif. Namun, keputusan profesional, hubungan konseling, dan proses membantu individu menemukan makna hidup tetap membutuhkan kehadiran manusia.

Topol (2019) menegaskan bahwa teknologi terbaik bukanlah teknologi yang menggantikan manusia, tetapi teknologi yang memungkinkan manusia memberikan pelayanan yang lebih baik. Pandangan ini menjadi penting dalam memahami posisi AI dalam profesi konseling. AI seharusnya menjadi mitra yang memperkuat kapasitas konselor, bukan menjadi pengganti hubungan manusia yang menjadi inti profesi tersebut.

Pada akhirnya, pertanyaan “Akankah konselor tergantikan?” bukanlah pertanyaan tentang siapa yang lebih unggul antara manusia dan mesin. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah bagaimana konselor mampu menjaga nilai kemanusiaan dalam pendidikan di tengah perkembangan teknologi. AI dapat memberikan jawaban, tetapi konselor membantu manusia menemukan makna. AI dapat membaca pola, tetapi konselor memahami kehidupan.

Karena pendidikan bukan hanya tentang menciptakan manusia yang mampu menggunakan teknologi, tetapi juga tentang menjaga agar manusia tetap memiliki empati, kesadaran, dan kemanusiaan di tengah kemajuan zaman.

Daftar Pustaka Ayers, J. W., Poliak, A., Dredze, M., Leas, E. C., Zhu, Z., Kelley, J. B., Faix, D. J., Goodman, A. M., Longhurst, C. A., Hogarth, M., & Smith, D. M. (2023). Comparing physician and artificial intelligence chatbot responses to patient questions posted to a public social media forum. JAMA Internal Medicine, 183(6), 589–596.

Boucher, E. M., Harake, N. R., Ward, H. E., Stoeckl, S. E., Vargas, J., Minkel, J., Parks, A. C., & Zilca, R. (2021). Artificially intelligent chatbots in digital mental health interventions: A review. Expert Review of Medical Devices, 18(sup1), 37–49.

Cho, Y. M., Rai, S., Ungar, L., & Sedoc, J. (2023). An integrative survey on mental health conversational agents to bridge computer science and medical perspectives.

Dwivedi, Y. K., et al. (2023). So what if ChatGPT wrote it? Multidisciplinary perspectives on opportunities, challenges and implications of generative conversational AI. International Journal of Information Management, 71, 102642.

Holmes, W., Porayska-Pomsta, K., Holstein, K., et al. (2022). Ethics of AI in education: Towards a community-wide framework. International Journal of Artificial Intelligence in Education, 32, 504–526.

Norcross, J. C., & Lambert, M. J. (2018). Psychotherapy relationships that work III. Psychotherapy, 56(4), 303-315.

Rogers, C. R. (1957). The necessary and sufficient conditions of therapeutic personality change. Journal of Consulting Psychology, 21(2), 95–103.

Topol, E. (2019). Deep Medicine: How Artificial Intelligence Can Make Healthcare Human Again. Basic Books.

Yalom, I. D., & Leszcz, M. (2020). The Theory and Practice of Group Psychotherapy (6th ed.). Basic Books.

Yonatan-Leus, R., & Brukner, D. (2025). Empathy and artificial intelligence in mental health conversations: Comparing chatbot and human responses. Counselling and Psychotherapy Research.

0 komentar

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.